Thursday, 29 August 2013

hello.... how are u my frnz.... sory lama x post yg bukan2 dalam blog ni...

Thursday, 22 August 2013

Facing the finality – Death and Adjustment Hypotheses 
Dr. Mohammad Samir Hossain 


Encouraged by Dr Peter Fenwick’s review of my book Human Immortality: Death and Adjustment Hypotheses Elaborated in Newsletter 27, I would like to share more of my thinking with the Spirituality SIG membership and this short article is a modest attempt to do so. Seeking the meaning of life is a universal criterion of humanity (Wong, 2000). Meaning is important when understanding its purpose. Both our ‘origin’ and ‘destination’ are related to the meaning we give to life. Civilized human society has shown enormous interest in our origins, with evolutionary theory exploring many aspects of human origin. However, the strange fact is that we express so little interest in our destination. Every life on earth must end with death and yet this fact is rarely analysed methodologically. Even if death is the absolute end, we still require some methodological approach for its optimum accommodation, yet practically speaking, there is no such approach. This has never seemed normal to me. My personal fears about death used to bother me a lot. When my first son ‘Seeyam’ died in my arms, all the unasked questions about death came flooding into consciousness. I was blind with pain for the first two or three days after losing him. Then I felt a need to analyse the phenomenon of death in order to answer these questions. When I started working on my Death and Adjustment Hypotheses, the first thing that I reflected on was my faith in the positivity of Nature. I have always believed that humans have the ability to adjust to every natural phenomenon in life. Therefore, I was unwilling to accept death as something too terrifying for us to think about. I began by identifying the most painful or unacceptable aspect of death. It was much easier to evaluate this for myself than for others, but I am confident my experience extrapolates to a wider sample. It is the finality of death that seemed to be the most painful and unacceptable criterion for me, and I think for many others too (Wong, 2000). What I understand by the finality of death is that bodily death means the permanent cessation of our existence. Though it might seem obsessive on my part, I wanted to be sure of this absolute ending of existence through death. Nevertheless, the problem that prevented me from exploring this ‘finality’ is the lack of any empirical study supporting or opposing it. This further opened the door to a new thought – that according to empirical science, the finality of death would be no more than a 50/50 chance. In that case, and since my religious beliefs in an afterlife go against such finality, surely the phenomenon of death should have been more tolerable for me after losing my son? The same should be true for all people belonging to the major religions that describe an afterlife. 
Only a moral life can give us the clearest perception of death. As a potential remedy to many of the prevailing problems we face, including those in the sphere of mental health, we need to speak out against the rising materialism of modern society. Then can we contemplate without fear our true finality, whatever that is to be. 


Tobacco Could Kill One Billion By 2100, WHO Report Warns

Tobacco Could Kill One Billion By 2100, WHO Report Warns

Kematian Itu Pasti


AL-MARAGHI berkata: Setelah Allah SWT menghiburkan nabi-Nya sebagaimana yang terdapat dalam ayat yang lalu memuatkan pendustaan kaumnya terhadapnya.

Sebahagian daripada rasul sebelummu telah didustakan oleh kaumnya sebagaimana engkau sekarang didustakan.

Para rasul dahulu menghadapi penderitaan daripada kaumnya sebagaimana yang engkau hadapi sekarang. Bahkan (penderitaan mereka dahulu) lebih berat. Sebahagian daripada mereka ada yang dibunuh seperti yang tejadi kepada Nabi Yahya a.s dan Nabi Zakaria a.s.

Sebab nuzul ayat ke-185

Ibnu Abbas berkata: Tatkala turunnya ayat daripada surah Sajadah ayat 11 yang bermaksud: Katakanlah yang mematikan kamu ialah malaikat maut yang diwakilkan denganmu, lantas mereka bertanya: Hai Rasulullah, sesungguhnya ayat ini diturunkan terhadap anak Adam, bagaimana berkenaan dengan kematian jin, burung dan binatang? Lantas turunnya ayat ini.

Iktibar dan fiqh ayat ke-185

Ibnu Kathir berkata: Allah SWT menceritakan secara umum yang meliputi semua makhluk-Nya bahawa setiap yang bernyawa pasti akan merasa kematian. Yang tidak mati hanyalah Allah sahaja.

Antara yang mati ialah jin, manusia, malaikat dan lain-lain. Ayat ini dengan jelas merupakan takziah kepada semua manusia. Tidak ada yang kekal di atas muka bumi kecuali pasti menerima kematian.

Ibnu Jauzi berkata: Ayat ini memberi berita gembira kepada yang melakukan kebaikan dan memeberi ancaman yang melakukan kejahatan.

Ayat ini juga memberitahu hakikat kehidupan penuh dengan tipu daya dan diberi panjang angan-angan tentang kehidupan yang kekal, sedangkan ia boleh berlaku kematian pada bila-bila masa.

Al-Qurtubi berkata: Apabila Allah menceritakan berkenaan orang bakhil dan kufur, lantas Allah perintahkan kepada orang yang beriman supaya bersabar di atas ujian yang dihadapi oleh mereka.

Al-Maraghi berkata: Setiap yang berjiwa akan mengalami saat perpisahan dengan jasad (badan). Ini menunjukkan jiwa tidak akan mati sekalipun badannya mati.

Ini disebabkan yang mampu merasakan sesuatu adalah sesuatu yang wujud (ada), sedangkan yang mati tidak akan mampu berasa sesuatu.

Hamka berkata: menurut ahli-ahli tafsir terutamanya ditegaskan oleh Ibnu Jarir bahawasanya ayat ini yang menyatakan bahawa tiap-tiap nyawa pasti merasakan mati, adalah lanjutan tasliyah ubat penawar hati Nabi dalam kesibukan perjuangan yang kadang-kadang menghadapi tentangan, dan dia pun menjadi ubat penawar bagi sekalian orang yang menegakkan iman.

Al-Sonhadji berkata: Setiap yang bernyawa pasti akan merasai detik kematian dan bertemu ajal. Sebenarnya nyawa itu tidaklah sekali-kali mati dengan sebab matinya tubuh badan atau jasad.

Hanya yang hidup sahaja yang menikmati kehidupan akan tetapi kematian pasti akan menjemput bagi setiap makhluk yang bernyawa.

Iktibar dan fiqh ayat ke-186

Ibnu Kathir berkata: Orang beriman pasti diuji sama ada tentang hartanya, jiwanya, anaknya, dan keluarganya. Ujian tersebut berdasarkan kadar keimanannya. Jika imannya kuat maka ujiannya bertambah, sebaliknya jika lemah maka ujiannya perlahan.

Al-Qurtubi berkata: ayat ini ditujukan kepada nabi dan umatnya. Maknanya kamu pasti akan diuji pada harta kamu dengan musibah dan lain-lain taklif syarak. Begitu juga jiwa dan kematian, sakit dan kehilangan orang yang dikasihi.

Al-Maraghi berkata: Ujian terhadap harta adakalanya dalam bentuk galakan, kebajikan yang dapat mengangkat martabat umat Islam dan menghancurkan musuh, menolak bala, membasmi wabak penyakit dan lain-lain.

Ujian terhadap diri (jiwa) dalam bentuk pengerahan tenaga adalah untuk berjihad pada jalan Allah SWT, kematian ahli keluarga, teman yang dicintai dan berjuang membela kebenaran.

Hamka berkata: Dalam kehidupan, dugaan pasti datang. Segala kesulitan pasti akan dapat diatasi. Orang bersenjata kita pun bersenjata. Orang menyerang kita menangkis dan sesekali kita pun menyerang. Tetapi pertahanan batin tidak lain ialah sabar dan takwa.

Al-Sonhadji berkata: Satu peringatan untuk memberi kesedaran kepada orang mukmin supaya tidak terkejut sampai hilang kewarasan dan terperanjat bilamana ujian Allah SWT datang menimpa ke atas harta mereka atau diri mereka.

Semoga kita sentiasa reda dengan ujian Allah dan bersyukur di atas segala nikmatnya. Mudah-mudahan nikmat tersebut akan bertambah dan berkekalan. Amin.

kejadian aneh pengantin

Petanda Akhir Zaman dan Kedatangan Imam Mahdi

The Arrivals Part 00 (Intro) - Malay Sub